Jumat, 07 November 2014

MIO J : MENGGANTI VELG MIO J STANDAR 
DENGAN VELG MIO LEBAR

Keinginan mengganti velg bawaan Mio J dengan velg yang ukuran diameternya atau rim yang lebih besar ternyata menghadapi beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan, antara lain :

a.   Jika menggantinya dengan velg rim 16
Velg rim 16 dari Yamaha adalah velg bawaan Yamaha Nouvo. Di YGP velg castingnya  sangat mahal, sekitar Rp. 700 ribuan satu biji, lebih tinggi Rp. 200 ribuan dari rim 14 (Mio J, X-Ride). Namun yang paling menjadi masalah adalah ukuran ban 70/90-16 (standar ban depan Nouvo) dan 80/90-16 (standar ban belakang Nouvo) yang kurang aman karena agak gasruk jika dipasang di Mio J, sedangkan ban ukuran lain yang lebih rendah misalnya 60/80-16 (termasuk ban dalamnya) susah didapat. Selain itu, perbedaannya, dengan velg standar ukuran 14 tidak terlalau mencolok saat dipandang.

b.   Jika menggantinya dengan velg rim 17
Dengan velg rim 16 dan ban standar yang aman sudah agak gasruk, apalagi dengan velg rim 17 yang banyak dipakai di motor bebek dan sport. Agar tidak gasruk ke air scoop atau filter udara ketika dipasang di Mio J, ukuran ban yang digunakan harus yang tipis. Modif dengan ukuran begini hanya cocok di drag jarak pendek. Untuk harian jarak jauh dan mengarungi jalanan berbatu atau berlubang sangat tidak aman. Ban tipis akan mengancam velg dan ban sendiri, sehingga velg bisa bengkok atau bahkan patah, dan ban bisa pecah. Di kalangan anak muda modif begini menjamur, karena terkadang “kecerobohan, kesembronoan” sering dianggap gaya hidup kaum muda ’pemberani’.

c.    Jika menggantinya dengan velg rim 14 lebar
Dengan kembali ke tujuan modif - yaitu membuat ground clearance jadi tinggi, dengan suspensi yang lebih empuk, namun tetap aman - maka dalam batas-batas tertentu, nampaknya kombinasi velg berrim kecil dengan ban berukuran tebal (tinggi dan lebar) lebih baik daripada kombinasi velg berrim besar dengan ban berukuran cacing (tipis dan kecil). Apa lagi jika rim velegnya juga lebar memiliki rasio yang sesuai dengan lebarnya ban, akan diperoleh stabilitas yang lebih baik karena gripnya lebih besar mencengkram jalan. Jika ada ukuran ban yang ketinggiannya lebih dari standar tanpa gasruk justru lebih baik karena makin mengamankan velg dan makin empuk. Oleh karenanya velg rim 14 lebar saya rasa lebih menggoda. Tentu saja atas pertimbangan pribadi. Gayung bersambut, velg 14 variasi berrim lebar sudah bisa didapat di toko variasi A (sebut saja begitu untuk membedakan dengan toko lainnya) di kotaku. Ada merk Power dan Rossi. Yang merk Power harganya Rp. 800.000 per set (du buah, depan dan delakang) dan yang merk Rossi harganya Rp. 600.000 satu set. Jika dibandingkan dengan velg ori standar Yamaha yang mencapai Rp. 500.000 an satu biji, tergolong lebih murah. Harus cari duit dulu atau cari second-nya agar lebih murah.

Tanggal 31 Agustus 2014, saya main ke toko variasi tersebut. Yang ada dari merk Power saat itu untuk Beat. Untuk Mio J harus pesan dahulu, dan bisa datang dalam waktu tiga hari. Kemudia dia menawari velg lebar second-an merk Power tipe rose untuk Mio lama, harganya Rp. 300.000. Lebarnya, yang depan 2,5 inchi, yang belakang 3,0 inchi. Saya inginnya velg lebar Power untuk Mio J, supaya tidak banyak masalah penyesuaian, namun karena barangnya harus pesan, harga second-an velg lebar merk Power ini lebih murah, kalau sudah bosan bisa dijual lagi ke toko tersebut, dan menurut toko variasi velg untuk Mio lama ini tidak jauh berbeda dengan velg untuk Mio J, saya akhirnya tergoda membelinya.

Bawaan velg lebar merk Power untuk Mio lama ini di-chrom. Karena oleh pembelinya pertamanya sudah pernah dicat dengan pengelupasan chrom bawaannya yang kurang baik, sehingga ketika toko variasi mengelupaskan catnya dengan soda api, chrom bawaannya masih tampak di beberapa bagian dengan tidak merata. Artinya velg ini perlu dibersihkan dan direhab dahulu. Saya berpikir untuk memilih antara di-chrom kembali, dicat kembali, atau dipoles. Akhirnya, karena tempat meng-chrom jauh, dan kalau dicat kembali akan tergores lebih cepat, saya milih untuk dipoles saja. Saya coba mendatangi toko / tukang variasi velg mobil. Awalnya mereka ragu, tapi setelah diyakini pengerjaannya sama saja dengan memoles velg mobil, mereka mau. Untuk biaya membersihkan chrom dan memoles hingga kinclong, mereka minta Rp. 300.000 dengan pengerjaan selama 4 hari. Mahal juga ya. Artinya kalau untuk moles veleg mobil bisa dua kali lipat tuh. Karena kalau dikerjakan sendiri akan memakan waktu yang lama dan alat bahannya tidak tau, ya saya setuju. Dipikir-pikir jadi Rp. 600.000 tuh beli veleg. Belum lagi dengan masalah penyesuaiannya saat dipasang. Waduh mending beli baru ya ?  

Mencari perbandingan lebar velg dengan lebar ban yang pas


Lebar velg dan ukuran ban standar keluaran pabrik saya pandang sudah memperhitungkan aspek keamanan dan dan kenyamanannya. Oleh karenanya, untuk mencari rasio aman saat merubah ukurn lebar velg dan lebar ban bisa belajar dari ukuran velg dan ukuran lebar ban standar. Dari Mio J misalnya, velg bawaan bagian depan memiliki lebar 1.4 inchi atau 35 mm dengan asumsi 1 inchi sama dengan 25 mm. Velg dengan lebar 35 mm ini dipasangi ban yang lebarnya 70 mm. Sedangkan velg belakangnya memiliki lebar 1.8 inchi atau 45 mm, dan dipasangi ban yang lebarnya 80 mm. Jadi, baik ban depan maupun ban belakang standar selalu lebih 35 mm dari lebar velgnya. Artinya selalu terbagi 17,5 mm dari sisi kiri velg dan 17,5 mm dari sisi kanan velg. Kita perlu yang pas atau mendekati selisih tersebut.


Dengan demikian, untuk velg depan merk Power yang lebarnya 2,5 inchi (63 mm) memang tidak ada yang bersellisih 35 mm. Yang mendekati selisih tersebut adalah ban yang lebarnya 90 mm atau 100 mm. Sedangkan untuk velg belakang yang lebarnya 3,0 inchi (75 mm) bisa dipasangi ban yang lebarnya 110, selisihnya pas 35 mm.

Mencari ukuran ban depan yang tidak gasruk
Untuk mencari ukuran ban depan yang lingkaran luarnya tidak gasruk ke part terdekat khususnya air scoop di belakang roda, dapat dilihat dari bagian MIO J : MEMILIH UKURAN RODA YANG LEBIH TINGGI DAN SAFE UNTUK MIO J, yang antara lain perkiraan kondisinya jika masih menggunakan velg roda depan rim 14 :


Dengan melihat tabel di atas, banyak yang bisa dipilih. Ban yang berukuran 80/90-14 dan 90/80-14 paling aman, kemudian ukuran 100/70-14 dan 100/80 cukup aman buat melindungi velg dan tidak gasruk ke air scoop.

Dari perbandingan lebar velg dengan lebar ban, diketahui untuk membalut velg depan yang lebarnya 2,5 inchi, idealnya adalah dengan ban yang lebarnya 90 mm atau 100 mm.

Sedangkan untuk mencari ukuran lebar ban depan yang tidak gasruk ke pinggir khususnya tabung shock dapat dilihat di bagian MIO J : MEMILIH UKURAN LEBAR BAN YANG SAFE UNTUK MIO J, bahwa jika masih menggunakan veleg rim 14 maka lebar ban maksimum menyentuh tabung shock adalah 108 mm.

Kesimpulannya, ukuran ban yang tidak gasruk ke kiri-kanan, dan tidak gasruk ke air scoop Mio J, dan sekaligus aman bagi velg adalah ban berukuran 90/80-14, 100/70-14, dan 100/80-14.

Mencari ukuran ban belakang yang tidak gasruk
Untuk mencari ukuran ban belakang yang tidak gasruk ke tengah box filter udara dapat dilihat dari bagian MIO J : MEMILIH UKURAN RODA YANG LEBIH TINGGI DAN SAFE UNTUK MIO J, yang antara lain perkiraan kondisinya jika masih menggunakan velg roda depan rim 14 :


Dari tabel terlihat bahwa ban yang berukuran 100/70-14 dan 100/80 cukup aman untuk buat melindungi velg dan tidak gasruk ke tengah box filter udara.

Dari perbandingan lebar velg dengan lebar ban pula, diketahui bahwa untuk membalut velg belakang dengan lebar 3,0 inchi, idealnya adalah dengan ban yang lebarnya 110 mm.

Kemudian, untuk mencari ukuran lebar ban belakang yang tidak gasruk ke pinggiran box filter udara dapat dilihat di bagian MIO J : MEMILIH UKURAN LEBAR BAN YANG SAFE UNTUK MIO J, bahwa dengan menggunakan veleg rim berapa pun maka lebar ban maksimum menyentuh pinggiran box filter udara adalah 108 mm.

Kesimpulan, ukuran ban yang tidak gasruk ke kiri-kanan, dan tidak gasruk ke box filter udara  Mio J, dan sekaligus aman bagi velg adalah ban berukuran ban ukuran 100/70-14 atau 100/80-14. Kalau mau sensasi bisa dicoba ukuran 110/70-14 dan 110/80-14 yang cukup banyak di pasaran. Ban dengan ukuran tersebut tidak gasruk ke bagian tengah box filter udara, namun bakal gasruk ke pinggirannya. Apa lagi jika menginginkan sensasi dengan ukuran 120/70-14 atau 120/80-14, pasti velegnya tidak bisa merapat ke gear box.

Keputusan
Pada tanggal 26 September 2014, saya pergi ke toko variasi A lagi untuk memasang velg depan merk Power yang lebarnya 2,5 inchi untuk Mio lama pada Mio J saya setelah selesai dipoles. Saya memilih ban depan berukuran 90/80-14. Menurut perkiraan saya, dengan ukuran tersebut, efeknya tidak akan terlalu ‘merusak’ part lain. Karena di toko variasi tersebut ukuran yang diinginkan tidak ada, maka saya cari dulu di bengkel/ toko lain. Yang didapat adalah merk FDR dengan harga Rp. 175.000. Setelah dibayar, langsung saya bawa lagi ke toko variasi A, dan dipasanglah secara tubless dengan menggunakan pentil tubless lurus. Sebenarnya saya ingin menggunakan pentil bengkok supaya lebih gampang saat mengisikan udara dari kompresor ke ban. Namun yang bengkok tidak ada di toko variasi tersebut. Ya sudah, pentil lurus saja. Harganya Rp. 11.000.

Piringan lebar 26 cm Monster Energy yang selama ini terpasang pada veleg bawaan Mio J yang diikat ke veleg dengan tiga baud tidak bisa digunakan karena velg untuk Mio lama termasuk variasinya dari merk Power berlubang baud empat. Penggantinya, piringan variasi lebar 26 cm untuk Mio Lama yang ada di toko variasi tersebut, yaitu merk MOTOJCTZ, harganya Rp. 130.000 yang dikemas bersama baud dan breketnya.


Piringan pun dipasang pada velg lebar merk Power untuk Mio lama dengan menggunakan empat baud yang dibeli di toko tersebut dengan harga Rp. 1.500 per biji dan breket buatan tukang bubut yang selama ini telah dipasang. Baud-baud tersebut diputar dengan menggunakan kunci L. Lalu breket dan baud bawaan MOTOJCTZ ke mana ? Ga tahu. Sejak menunjuk piringan yang dibeli hingga selesai pemasangan tidak pernah melihatnya lagi.   Mungkin karena mereka melihat breket buatan tukang bubut yang telah terpasang dan agar tidak membongkarnya lagi, breket bawaan MOTOJCTZ diumpetin. Ah aneh-aneh saja.

Ketika roda dicoba dipasang, mekanik mengatakan bahwa ban yang lebarnya 90 mm tersebut akan gasruk ke bagian spatbor yang melingkupi tabung shock saat shock dan ban naik atau saat body motor turun (suspensi). Menurutnya bagian spatbor tersebut harus dipotong. Karena mereka (dua orang) berusaha meyakinkan saya, ya saya relakan untuk dipotong bagian yang melingkupinya saja. Lalu mekanik membawanya ke dalam untuk memotongnya dengan menggunakan gerinda listrik. Saat ke luar, mekanik membawa spatbor yang sudah dipotong. Waduh malah dipotong hingga lurus sampai ke ekor spatbor, hingga si ekor tinggal seupil. Memang dari luar tidak terlalu terlihat sih, tapi saat melewatii genangan air di jalan, nanti airnya bisa menjiprat ke ruang lampu sen. Aduh, aduh ! 

 

Selesai pemasangan roda depan, lalu cek rem. Alhamdulillah rem tidak ada masalah. Pengereman pakem. Kependekan kabel rem masih sama dengan efek dari digantinya shock Mio J dengan shock X-Ride.

Kemudian cek speedometer. Ujung kabel bawah yang menempel ke GEAR UNIT ASSY menekuk kependekan sama dengan efek dari digantinya shock Mio J dengan shock X-Ride. Namun yang jadi masalah adalah angka kilometer tidak berubah saat ban diputar. Gigi nanas yang berada di ruang GEAR UNIT ASSY tidak konek dengan ujung kabel speedometer. Gigi tersebut seperti berada pada ruang yang luas, sehingga bisa bergeser leluasa dan tidak tersentuh kabel speedometer. Kemudian mekanik menyelipkan ring tipis di sisi luar ruang GEAR UNIT ASSY Mio J tersebut untuk menahan atau mengganjal gigi nanas agar tetap ke tengah. Hasilnya speedometer oke lagi.

Kemudian, masalah lainnya yang saya ketahui setelah motor berada di rumah adalah posisi garis tengah ban depan yang tidak di garis tengah motor. Hal ini tampak, pertama pada perbandingan jarak antara (1) pinggiran ban sebelah kanan dengan tabung shock sebelah kanan, dengan (2) pinggiran ban sebelah kiri ke tabung shock sebelah kiri. Jarak antara ban dengan tabung di sebelah kanan sekitar 3 mm, sedangkan jarak antara ban dengan tabung sebelah kiri sekitar 12 mm. Yang kanan lebih sempit daripada yang kiri.


Kedua, pada perbandingan antara garis tengah punggung ban dengan garis tengah spatbor. Garis tengah ban depan tampak bergeser hampir sekitar 8 mm ke kanan dari garis tengah spatbor.


Garis tengah ban (kuning) tidak segaris dengan garis tengah motor (merah)

Karena penasaran, besoknya, saya membawa masalah mengapa perlu ring pengganjal gigi nanas dalam GEAR UNIT ASSY Mio J ini ke bengkel lain. Sang bengkel membongkarnya dan menjelaskan bahwa ketidakklopannya bukan karena penggunaan GEAR UNIT ASSY Mio J pada veleg variasinya untuk Mio lama. Baik dengan menggunakan GEAR UNIT ASSY Mio lama maupun dengan menggunakan GEAR UNIT ASSY Mio J hasilnya akan sama saja, karena hanya beda kode. Jadi tidak ada masalah dengan GEAR UNIT ASSY. Sumber ketidakklopan karena terlalu pendeknya bagian dalam velg depan lebar merk Power untuk Mio lama ini untuk memposisikan gigi nanas pada tempat yang seharusnya. Mungkin karena telah dipendekakan atau digerinda untuk tujuan tertentu. Kalau tidak dipendekan harusnya langsung klop.


Bagian dalam velg Mio J yang mendorong gigi nanas di ruang GEAR UNIT ASSY.

Selain bertanya ke bengkel, saya membandingkan parts yang ada pada roda depan Mio lama dan yang ada pada Mio J.

Perbandingan Parts Front Cast Wheel Mio J dengan Parts Front Cast Wheel Mio


Dari tabel terlihat bahwa ada empat parts roda depan yang berbeda dari Mio lama dan Mio J, yaitu BEARING, COLLAR, WASHER, PLATE, dan GEAR UNIT ASSY. Dengan adanya perbedaan keempat parts tersebut, jangan-jangan velg depan lebar merk Power untuk Mio lama ini memang benar-benar tidak cocok dipasang di Mio J. Bergesernya posisi ban ke sebelah kanan dengan efek total sekitar 8 mm dan perlunya ring pengganjal di ruang gigi nanas GEAR UNIT ASSY untuk Mio J, bisa saja justru bersumber dari keempat parts tersebut.


Apakah perlunya pengganjal berupa ring di pinggir gigi nanas dalam ruang GEAR UNIT ASSY Mio J semata karena bagian dalam velg variasi depan lebar merk Power untuk Mio lama ini telah digrinda ? Ataukah memang dari pabriknya velg variasi depan lebar merk Power untuk Mio lama tersebut begitu adanya, sehingga kalau keempat parts yang berbeda di-Mio lama-kan tidak akan memerlukan ring pengganjal gigi nanas dan posisis garis tengah punggung ban akan tepat di tengah garis tengah motor ? Sehingga seolah tidak membagi rata lebar rimnya ke kanan dan kiri atau lebih banyak ke kanan saat dipadukan dengan parts Mio J ? Entahlah. Jawabannya tentu harus diganti dulu keempat parts yang dicurigai tersebut dengan punya Mio lama.

Nah, sementara parts roda depannya belum diklopkan dengan velegnya, dan dengan posisi ban depan lebih ke kanan seperti itu, berbahaya tidak yeuh terhadap riding ? Ah pusing amat, jawabannya harus dicoba dikendarai! Ha ha ha terlalu banyak mikir, kaya bukan orang Indonesia saja !

Pemasangan velg belakang tidak bisa dilakukan hari itu karena sudah sore. Toko variasi A mau tutup. Besoknya tanggal 27 September 2014 saya tidak mendatangi toko variasi A, tapi pindah ke toko variasi B untuk memasang velg belakang merk Power yang lebarnya 3,0 inchi untuk Mio lama pada Mio J saya. Saya memilih ban belakang ukuran 110/80-14. Menurut perkiraan saya, dengan ukuran tersebut, cukup sensasional karena bisa melebihi ukuran ban belakang standar di X-Ride yang hanya 100/70-14.

Yang ada di toko variasi tersebut adalah merk Corsa dengan harga Rp. 210.000. Dipasanglah secara tubless dengan pentil tubless bengkok seharga Rp. 20.000 yang telah saya beli sebelumnya di bengkel / toko lain yang menjual tipe bengkok. 


Ketika dicoba dipasang, apa yang diperkirakan benar-benar terjadi. Punggung ban setinggi 88 mm (80% X 110 mm, ukuran ban 110/80-14) itu memang aman-aman saja ke mesin dan box filter udara bagian tengah, namun lebar ban 110 mm memang melebihi batas maksimal. Ukuran 108 mm saja ’kan sudah menyentuh pinggiran box filter udara. Tak heran kalau begitu pasang ban tersebut langsung gasruk dengan box filter udara bagian pinggir, macet ga bisa diputar.

Karena ban Corsa selebar tersebut sudah kadung dibeli, bahkan telah dipasang pada veleg belakang lebar merk Power, saya pikir mending dicoba dipasang agar mengetahui apa yang harus disesuaikan dan bagaimana mengakalinya. Mekanik yang ditantang berpikir pun beraksi dengan :

1.   Membuat ring setebal 1 mm hasil modifan dengan bor agar masuk ke as. Ring ini digunakan sebagai ganjal antara washer plate (mirip ring juga) dengan sisi veleg bagian dalam sehingga velg menjauh setebal ring tadi dari waher plate, yang diteruskan dengan menjauhnya pinggiran ban dari filter udara. Singkatnya, washer plate-nya jadi double.


Waduh aman ga ya terhadap ruangan as ? ”Aman”, kata mekanik. Ring tersebut tak akan ke mana-mana dan tidak akan aus. Kemudian karena ring pengganjal ini relative tipis, maka mur luar di ujung as pun masuk semua bahkan masih menyisakan beberapa ulir drat di ujung as. Hanya saja menyebabkan garis tengah ban bergeser sedikit dari garis tengah motor.

2.  Mengeser / memutar filter udara sehingga tidak lurus atau melebar ke samping kiri di bagian belakangnya. Upaya ini dilakukan dengan jalan :

a.   Mengganjal baud belakang pengikat filter udara dengan mesin, dengan lima buah ring. Efeknya, karena baudnya tidak diganti dengan yang lebih panjang maka ujung baud tidak menepi ke ujung lobang yang ada di blok mesin. 

 Baud yang diganjal lima buah ring, dilihat dari sebelah kiri motor



Baud yang diganjal lima buah ring, dilihat dari sebelah kanan motor

b.   b. Melepas bos dan dumper karet yang ada pada lobang baud box filter udara sisi kanan motor. Hal ini terjadi karena lubang baud pada box filter udara tidak lurus dengan lubang baud pada blok mesin sehingga baud pengikatnya tidak bisa masuk. Setelah bos dan dumper karetnya dilepas, lubang baud di box filter udara jadi besar. Baud bisa masuk walau box filter udara tersebut dalam keadaan tidak lurus atau tidak sejajar dengan blok mesin. Agar tetap terikat atau terjepit, digunakanlah dua keping ring besar dan kecil yang ditumpuk sehingga baud bisa menekan / menyatukan box filter udara dengan blok mesin. Kuat memang sepanjang baud diputar hingga sesak, tapi lama-lama ada yang retak atau bahkan pecah engga ya pada bagian lubang baud box filter udara yang dipaksa bengkok tersebut ?  Ha ha ha setiap modifikasi pasti ada yang dikorbankan. Kali ini begitu dulu. Memang seharusnya ada solusi yang lebih ’manusiawi’ dan artistik. Namun yang begitu tentu saja pengerjaan lama dan diperlukan study terlebih dahulu yang seksama sehingga tingkat ketelitian atau presisi dan artistikanya tercapai.


Dumper karet dan bos lubang baud box filter udara yang dilepas,
dilihat dari sebelah kiri motor


Dua keping ring besar dan kecil yang ditumpuk, dilihat dari sebelah kanan motor,
sehingga baud bisa menyatukan box filter udara dengan blok mesin dengan baik


Hasilnya pinggiran ban agak menjauh beberapa mm dari filter udara. Walau tetap hampir gasruk.


Dengan demikian, tidak seperti veleg depannya, veleg belakang lebar variasi merk Power untuk Mio lama tidak masalah dipasang di Mio J. Yang jadi masalah di roda belakang adalah lebar ban yang melebihi batas maksimal sehingga perlunya menggeser box filter udara. Pantesan kalau X-Ride saja standarnya pakai veleg belakang dengan lebar 2,5 inchi dan ukuran ban 100/70-14. Ya agar tidak gasruk.

Lalu cek rem. Alhamdulillah, rem belakang tidak ada masalah berarti. Hanya perlu setting-an lebih dalam mengingat velg lebar variasi untuk Mio lama merk Power ini second-an sehingga tepi terombolnya sudah sedikit terkikis kampas rem agak dalam.

Terakhir bayar-bayar.  Urusan enam  ring, satu ring  agak besar, dan modif ring dengan dibor minta Rp. 3000. Jasa mekanik minta Rp. 10.000. Wow murah sekali. Beres sudah semuanya ! Hasilnya, motor jadi tambah tinggi dibanding dengan menggunakan velg dan ban standar Mio J. Tampilan struktural motor tidak lagi seperti plang, papan yang berisi tulisannya besar, tiangnya kecil. Sekarang baru harmoni. Gendut dari atas sampai ke bawah. 


Saat parkir dengan standar samping cukup kemiringannya. Saat parkir dengan standar tengah sangat seimbang. Saat diturunkan dari standar tengah tidak menimbulkan suara keras mengguprak lagi, karena ban belakang yang besar tersebut berjarak tidak terlalu jauh dengan tanah.

Saat dikendarai, motor begitu tambleg (stabil). Mungkin karena bobotnya bertambah berat dan makin lebarnya tapak ban yang menempel ke jalan. Dengan kecepatan 40 km/jam terasa begitu tenang. Anteng tenan. Nyaman kayanya buat touring. Kemudian saat berada di jalan lurus dan sepi, walau ingat bahwa ban depan bergeser hampir 1 cm ke kanan dan ban belakang bergeser setebal ring 1 mm dari garis tengah motor ke kanan, saya coba membawanya lari hingga 80 km/jam - top speednya Mio J standar real. Horee . . .  tetap stabil dan nyaman. Namun tentu saja tidak selincah standarannya. Yaa . . . consequence always follows the choice ! Saat berbelok dalam keadaan agak cepat harus ditambah dengan memiringkan badan. Serasa moge touring (mimpi kali).

Dengan menggunakan veleg untuk Mio lama, mungkin sebaiknya parts roda depan di-Mio lama-kan. Atau Lebih manis lagi pakai veleg lebar variasi untuk Mio J, jangan pakai untuk yang lain. Kemudian, ban belakang cukup dengan ukuran 100/80-14 dengan lebar veleg secukupnya, agar ia mulus berputar dengan leluasa tanpa harus ’menyiksa’ dengan memelintir filter udara. Pasti makin tenang.